Selasa, 05 April 2011

ANALOGI MUTU PELAYANAN


 A. ANALOGI
Dalam membuat sebuah perbandingan, orang mencari persamaan dan perbedaan di antara hal-hal yang diperbandingkan. Jika dalam perbandingan itu orang hanya memperhatikan persamaannya saja tanpa melihat perbedaannya, maka timbullah analogi, persamaan di antara dua hal yang berbeda. Pada proses analogi tentunya melibatkan sebuah pengalaman, berangkat dari suatu fenomena yang sudah kita ketahui menuju fenomena serupa dalam hal-hal yang pokok.(1)
Analogi dalam  ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.(2)
Analogi merupakan penemuan masalah dengan cara mengadaptasi masalah dari suatu pengetahuan dan menerapkannya ke bidang pengetahuan si peneliti baru, dengan adanya persyaratan bahwa kedua bidang tersebut harus memiliki kesesuaian dalam hal-hal yang penting (Prof. Dr. Achmad Djunaedi, 2000).
      Dalam membuat sebuah perbandingan, orang mencari persamaan dan perbedaan di antara hal-hal yang diperbandingkan. Jika dalam perbandingan itu orang hanya memperhatikan persamaannya saja tanpa melihat perbedaannya, maka timbullah analogi, persamaan di antara dua hal yang berbeda. Analogi adalah suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama.(1)


Untuk menguji apakah analogi yang dihasilkan cukup kuat untuk dipercaya, dapat kita gunakan beberapa analisa berikut :
1.      Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan.
2.      Sedikit banyaknya aspek- aspek yang menjadi dasar analogi.
3.      Sifat dari analogi yang kita buat.
4.      Mempertimbangkan ada tidaknya unsur-unsur yang berbeda pada peristiwa yang dianalogikan.
5.      Relevan dan tidaknya masalah yang dianalogikan(1).

A.    Mutu Pelayanan Kesehatan
  1. Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan
Mutu adalah kemampuan, kecocokan penggunaan (fitness for use), (J.M Juran). Mutu adalah gambaran total sifat dari suatu produk atau jasa pelayanan yang berhubungan dengan kemampuannya untuk memberikan kebutuhan kepuasan. (American Society for Quality Cotrol).
Mutu pelayanan kebidanan adalah tingkat kesempurnaan dan standar yang telah di tetapkan dalam memberikan pelayanan kebidanan untuk mengurangi tingkat kematian.(3)
Mutu pelayanan kebidanan menunjukan pada tingkat kesempurnaan pelayanan dalam  menimbulkan rasa puas pada klien. Kualitas jasa adalah bagian terpenting dalam  memberikan kepuasan kepada pelanggan. Pelayanan kebidanan dibawah naungan organisai profesi juga terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan. Kepuasan pasien dan kepercayaan pasien terhadap suatu organisasi sebenarnya sangat memegang peranan penting dalam persaingan disegmen pasar karena pasien/klien sebagai pelanggan merupakan alat promosi yang paling efektif dan akurat untuk menarik perhatian pelanggan lainnya dengan cara memberi informasi kepada orang lain.(3)



2.      Menetapkan Penyebab Masalah Mutu
Sebelum menentukan penyebab masalah adalah menentukan lokal masalah. Setelah ditentukan dimana proses lokasi masalah, ada kalanya harus dilengkapi dengan bagan atau diagram alur layanan, kelompok kelompok pemecahan masalah dapat melanjutkan langkah berikutnya yaitu menetapkan penyebab masalah. Kelompok menentukan penyebab masalah melalui curah pendapat atau kelompok teknik nominal. Sebagai alat bantu, kelompok dapat menggunakan diagram tulang ikan. Berikut cara menggunakan diagram tulang ikan.
a.       Tulis pertanyaan masalah pada kepala ikan yang berada di sisi kanan.
b.      Tentukan kategori duri utama. Ada yang memulai dari dua penyebab utama yaitu masukan dan proses, kemudian dari duri utama masing-masing dapat dipisah-pisah ke dalam subduri utama dan sub duri dan seterusnya sampai tidak dapat diuraikan lagi. Jika tidak dapat diuraikan berarti penyebab masalah sudah ditemukan. Ada pula yang membuat kategori duri utama langsung dengan kategori, misalnya manusia, alat, metode, lingkungan, pelatihan, supervisi dan sebagainya. Hal itu tidak menjadi masalah, yang terpenting adalah duri utama harus relevan dengan masalah.
c.       Kerjakan setiap duri utama secara berurutan. Upayakan mencari penyebab masalah dari berbagai sudut pandang, seperti sudut pandang pasien dan keluarganya, masyarakat, petugas layanan kesehatan, kepala pusat layanan kesehatan, pemerintahan daerah, atau dinas kesehatan sehingga memudahkan penemuan penyebab masalah.(3)

3.      Menetapkan Cara Menyelesaikan Mutu
Untuk dapat menetapkan cara penyelesaian masalah mutu pelayanan kesehatan (problem solution), berikut merupakan beberapa langkah pokok yang harus dilakukan :


a.       Menyusun daftar alternatif dengan cara penyelesaian masalah mutu.
       Untuk dapat menyusun daftar alternatif cara penyelesaian masalah mutu, gunakanlah teknik berpikir kreatif yang saat ini banyak macamnya. Salah satu di antaranya yang dinilai paling sederhana dan mudah dilaksanakan adalah yang dikenal sebagai teknik analogi.
b.      Menetapkan prioritas cara penyelesaian masalah mutu.
Untuk dapat menetapkan prioritas cara penyelesaian masalah mutu, lakukanlah pemilihan dengan menggunakan teknik kriteria matriks.(3)

B.     Analogi Mutu Pelayanan
      Penstrukturan masalah merupakan hal terpenting dalam menentukan kebijakan yang akan dikenakan terhadap suatu kota atau kawasan. Banyak pelaksanaan kebijakan yang gagal di suatu kawasan karena salah menstrukturkan permasalahan sebenarnya di kota atau kawasan tersebut. Kesalahan yang fatal adalah menyelesaikan dengan benar masalah yang salah. Dalam mendefinisikan masalah, selain menekankan pada situasi problematik, juga harus dikembangkan wawasan dan pendapat yang kreatif. (6)
        Pendefinisian atau perumusan persoalan dalam perencanaan atau analisis
kebijakan dapat dipandang sebagai proses dengan empat fase yang berkaitan satu sama lain, yaitu :
1. Penghayatan persoalan (problem sensing); tahapan analisis mengamati atau
     mengalami kondisi yang menumbuhkan situasi problematik.
2. Pencarian masalah (problem searching); tahapan analisis menemukan masalah
     yang dapat mewakili beberapa masalah yang diajukan oleh beberapa stakehoder.
3. Mendefinisikan masalah (problem definition); tahap analisis berusaha mendefinisikan masalah dengan pengertian yang paling dasar dan umum.
4. Spesifikasi masalah (problem spesification); tahapan analisis membangun
     penyajian formal atas suatu masalah substansif yang kemudian menghasilkan
     persoalan formal untuk dipecahkan. (6)

Sumber: William N. Dunn, 1994, Public Policy Analysis, Fourth Edition, Prentice Hall, halaman 149.


      Meskipun proses perumusan masalah dapat dimulai dari tahap mana saja di antara ke empat tahap di atas, suatu prasyarat dalam perumusan persoalan adalah perlunya pengenalan atau menyadari keberadaan situasi problematis. Dalam pergerakan dari situasi problematis ke meta problem, analis perlu melakukan pencarian masalah. Pada tahap ini tujuannya bukan menemukan masalah tunggal, tetapi menemukan perwakilan masalah dari beberapa masalah yang diajukan oleh beberapa pelaku kebijakan. Meta problem dalam perumusan masalah ini merupakan masalah dari masalah yang tidak terstruktur karena domain perwakilan masalah ditentukan oleh bermacam-macam pelaku yang sangat tidak teratur. (6)
      Untuk bergerak dari meta problem ke substantif problem, analis berusaha mendefinisikan persoalan melalui pengertian yang dasar dan umum. Setelah masalah substantif didefinisikan, kemudian dibentuk masalah formal yang lebih detail dan spesifik. Hal ini melalui tahapan spasifikasi masalah, yang biasanya berupa penyajian model formal terhadap persoalan substantif. Pada tahap inilah biasanya berbagai kesimpulan timbul karena kaitan antara persoalan substantif yang tidak terstruktur dengan jelas dan penyajian formalnya dapat saja sangat lemah. Untuk menghindari hal ini maka hal yang pokok harus diperhatikan adalah sifat dari masalah itu sendiri. (6)

Teknik-teknik dalam Perumusan Persoalan
      Terdapat beberapa metode untuk mengidentifikasi alternatif yang potensial. Seringkali alternatif –alternatif didapat melalui metode-metode penelitian formal (bila tersedia banyak waktu), tapi berikut ini disajikan metode-metode yang dengan lebih cepat dapat dipakai untuk mengidentifkasi alternatif-alternatif. Metode-metode tersebut yaitu:
(1) Analisis tidak ada tindakan (no action/status quo analysis): mengkaji kemampuan status quo (sebagai salah satu alternatif) dalam mengatasi masalah serta menjadi garis dasar pembanding dengan alternatif lainnya.
(2) Survey cepat (quick surveys): dapat dipakai untuk menumbuhkan informasi sejenis
(3) Kajian pustaka (literatur review): dipakai untuk menelusuri solusi-solusi yang berhasil di banyak tempat.
(4) Perbandingan pengalaman dunia nyata (comparison of real-world experiences).
(5) Koleksi dan klasifikasi pasif (passive collection and classification)
(6) Pengembangan tipologi (development of tipologies)
(7) Analogi, metafor dan sinektis (analogy, metaphor, and synectics): mencari alternatif dari kasus serupa atau permasalahan serupa.
(8) Curah gagas (brainstroming): menjaring banyak ide.
(9) Perbandingan dengan yang ideal (comparison with an ideal): untuk mengidentifikasi kurun (range) kemungkinan-kemungkinan dan mendorong kita untuk berpikir lebih luas. (7)
Secara lebih jelas tentang penggunaan teknik analogi, akan dibahas lebih lanjut di bawah.
Analogi, Metafor dan Sinektis
      Solusi yang mungkin dipakai dapat muncul dari kajian analogis terhadap kasus –kasus di masa lampau. Pendekatan ini disebut "analogi", "metafor", atau "simile", meminjam istilah-istilah dari bidang sastra. Ketiga istilah ini, dalam hal pengembangan alternatif, dianggap sama dan diartikan sebagai pencarian alternatif solusi-solusi dengan mengkaji situasi-situasi serupa (meskipun dari bidang yang berbeda).(7)
      Teknik sinektik dikembangkan oleh Willian J. J. Gordon dan merupakan teknik yang menggunakan analogi dan metafora (kiasan) untuk membantu individu menganalisis masalah dan melihat suatu masalah dari berbagai perspektif (Feldhusen & Treffinger, dalam Munandar, 1995:219; Sulistiyati, 2007). Sinektik dimaksudkan untuk menghentikan kebiasaan lama serta gagasan usang dan untuk memperkenalkan suasana rileks ke dalam proses penggalian ide. Proses sinektik mencoba membuat sesuatu yang “asing” menjadi “akrab”, begitupun sebaliknya.(8)
      Teknik ini menggabungkan antara teknik-teknik kreativitas (terutama analogi dan metafora) dengan beberapa aturan yang lebih baku sehingga sesi pertemuan berlangsung lebih terstruktur dan efisien. Sama seperti teknik-teknik berpikir kreatif lainnya, synectics mengajarkan kita untuk “mempercayai hal-hal asing, dan mengasingkan hal-hal yang dipercayai.” Dengan kata lain, kita diajak untuk memanfaatkan analogi-analogi yang kelihatannya tidak berhubungan dengan masalah yang hendak diselesaikan, dan pada saat yang sama melupakan ide-ide konvensional yang biasa dipakai. (9)
        Banyak juga yang menganggap synectics sebagai variasi lain dari brainstorming. Memang ada persamaannya, terutama bila synectics dilakukan dalam kelompok. Namun, berbeda sama sekali dengan brainstorming yang membiarkan para peserta mengeluarkan ide tanpa batasan yang jelas, synectics memberikan beberapa batasan sehingga terkesan lebih terstruktur. (9)
      Terdapat empat macam analogi, yaitu: (a) analogi personal, (b) analogi langsung, (c) analogi simbolis, dan (d) analogi fantasi.
Analogi personal dilakukan dengan memasukan diri sendiri (si analis) ke situasi problema untuk memudahkan mencoba alternatif solusi bagi problema tersebut (semacam survei berpartisipasi) sebagai pengembang lahan untuk mencoba mencari alternatif-alternatif solusi bagi pengembangan lahan.
Analogi langsung dilakukan dengan menelusuri solusi-solusi bagi problema lain. Misal: solusi yang dilakukan binatang dalam menghadapi hawa dingin dapat dijadikan salah satu alternatif untuk konservasi energi.
Analogi simbolis menggunakan citra obyektif dan impersonal untuk menjelaskan masalah. Analogi ini bersifat kualitatif (dan bukan kuantitatif) dan ditumbuhkan dengan cara asosiasi (pengkaitan). Dalam hal ini, analis mencoba mengembangkan alternatif yang secara estetika memuaskan daripada secara teknologis akurat.
Analogi fantasi memungkinkan analis untuk "bermimpi" alternatif-alternatif yang ideal (tanpa memikirkan kendala-kendala yang ada). Terhadap alternatif-alternatif yang dikumpulkan, kemudian diterapkan kendala sedikit demi sedikit sehingga didapat alternatif yang kurang "bermimpi". Analogi fantasi ini berguna dalam awal pengembangan alternatif untuk menstimulasikan pemikiran tentang alternatif solusi yang mungkin. (7)
        Untuk melihat contoh-contoh analogi tersebut, di sini diambil kutipan  contoh langsung dari buku William Gordon. Dalam contoh ini, sebuah kelompok yang terdiri dari 5 orang sedang berdiskusi bagaimana merancang semacam ritsleting untuk baju astronot.
Personal analogy: “Saya membayangkan menjadi seorang penyelamat pantai. Bayangkan badai besar di laut. Kapal terombang-ambing. Sebagai penyelamat pantai, saya berusaha menambatkan kapal dengan menggigit seutas tali tambang dan berenang mencari tambatan.”
Direct analogy: “Saya membayangkan ritsleting yang mirip dengan seekor serangga mekanik. Jika Anda menggunakan seekor laba-laba, dia bisa memintal sehelai benang dan menjahit kedua sisi agar tertutup.”
Symbolic analogy: “Kita bisa menjahit dengan baja.”
Fantasy analogy: “Saya membayangkan seorang jin yang bisa menutupnya untuk saya. Cukup sebutkan mantranya dan tertutup!”
      Lewat analogi-analogi yang dihasilkan dari diskusi di atas, kita akan mendapatkan alternatif-alternatif solusi yang selama ini tidak mungkin bisa dibayangkan. Sesi synectics bisa juga dilakukan sendirian, tetapi keampuhannya dalam kelompok lebih terasa karena para peserta bisa menimpali satu sama lainnya. Teknik ini sudah dikembangkan menjadi beberapa variasi. Namun dasar yang dipakai tetapi sama, yaitu memakai kekuatan analogi. (9)

Tidak ada analogi yang sempurna, tapi mungkin sesuatu yang sederhana dapat membantu untuk menghubungkan strategi mutu pelayanan yang digunakan dalam jaringan untuk sesuatu yang lebih setiap harinya: Rumah dan kualitas hidup.(4)
1.      Desain Jaringan
Tempat awal dalam mencapai  kualitas hidup (kualitas hidup) di rumah adalah untuk memilih atau membangun sesuatu yang benar. Rumah terdapat  dalam berbagai ukuran dan bentuk. Untuk mencapai kualitas hidup Anda, pertama anda harus secara jelas mendefinisikan apa itu, dan kemudian memilih atau membangun sebuah rumah yang bisa melayani kebutuhan. Jika Anda adalah keluarga dengan dua anak dan anda menikmati menjamu tamu, rumah satu kamar tidur dengan satu kamar mandi  dan dapur kecil anda tidak akan melakukan apapun. Anda memerlukan paling sedikit empat kamar tidur (satu untuk tamu), beberapa kamar mandi, ruang untuk menghibur, dan sebagainya. Tanpa rumah yang tepat, kualitas hidup Anda tidak akan terjadi harapan yang dapat direalisasikan.(4)
2.      Kontrol Penerimaan
Tidak peduli seberapa baik rumah dirancang, jika Anda membiarkan terlalu banyak orang didalamnya, kualitas hidup Anda akan menderita. Jika Anda merancang untuk sebuah keluarga inti (empat orang) dan dua tamu, dan anak Anda membawa pulang tim sepak bola untuk akhir pekan, maka akhir pekan itu tidak akan memiliki kualitas hidup yang tinggi. Prosedur control penerimaan yang ketat dibutuhkan, dan  hal itu harus dikomunikasikan dan diawasi. Jika tim sepak bola menginginkan  pengalaman kualitas hidup Anda dan mereka pintar, mereka akan menyesuaikan aliran mereka untuk dua pemain setiap akhir pekan dan, dari waktu ke waktu, mereka semua akan mendapatkan rasa kualitas hidup yang baik tanpa berpaling kembali.(4)
3.      Sinyal COS (Class of Service )
Agar anggota yang berbeda dari rumah tangga dapat  menerima kualitas hidup yang sesuai dengan tujuan  mereka, penting untuk dapat membedakannya. Untungnya, dalam analogi rumah kami, hal ini adalah yang paling mudah untuk ditangani. Anak-anak tampak berbeda dari orang tua, dan orang tua dapat membedakan antara anak-anak dan Bibi Martha yang mengunjungi mereka diakhir pekan. Jika ini adalah hotel besar daripada rumah, namun, beberapa bentuk penandaan akan dibutuhkan. Hotel sering menggunakan kunci kamar untuk membedakan tamu-tamu mereka.(4)
4.      Manajemen Antrian
Bahkan dengan rumah yang tepat, Anda perlu untuk secara efektif mengelola antrian. Sebuah rumah jarang memiliki sumber daya yang cukup untuk setiap orang untuk memiliki 100 persen dari sumber daya yang mereka miliki. Menempatkan 4 kamar mandi ke dalam rumah sehingga 4 orang dapat masing-masing memiliki satu kamar mandi, hal itu dinilai berlebihan dan jarang dilakukan. Sebaliknya kita harus mengatur antrian di dua kamar mandi yang kita miliki. Kita harus menetapkan bahwa kamar mandi lantai atas untuk ayah dan ibu dan di lantai bawah untuk anak-anak. Kita perlu menentukan bahwa mereka anak-anak harus berbagi  dengan tamu dan ayah dan ibu, tapi ayah dan ibu tidak harus berbagi dengan anak-anak mereka. Bahwa ayah dan ibu mendapatkan kualitas hidup yang mereka inginkan.(4)
5.      Sinyal QoS (Quality of Service)
Jelas, beberapa internal sinyal akan dibutuhkan untuk menunjukkan kebutuhan untuk cadangan atau sumber daya. Ketika Bibi Martha meminta untuk mampir di akhir pekan dan membawa dua temannya, anak-anak akan mendapatkan tanda kualitas hidup dari ibu dan ayahnya: membersihkan kamar dan pindah ke sofa! Kami adalah penggeser sumber daya untuk lalu lintas baru!(4).








Senin, 28 Maret 2011

PENDEKATAN KONSELING ANALISA TRANSAKSIONAL

(Eric Berne) pioner yang menerapkan analisa transaksional dalam psikoterapi.
Menurut Eric Berne’s Analisis transaksional adalah suatu model analisa komunikasi dimana seseorang menempatkan dirinya menurut posisi yang berbeda analisis ini digunakan pada kontak yang singkat dengan orang lain untuk membina hubungan yang baik.
Dalam terapi ini hubungan konselor dan klien dipandang sebagai suatu transaksional (interaksi, tindakan yang diambil, tanya jawab) dimana masing-masing partisipan berhubungan satu sama lain.
Sebagai fungsi tujuan tertentu. Transaksi menurut Berne merupakan manivestasi hubungan sosial.
Berne membagi psikoterapi konvensional menjadi dua kelompok
1. Kelompok yang melibatkan sugesti, dukungan kembali (reassurence), dan fungsi parental lain.
2. Kelompok yang melibatkan pendekatan rasional, dengan menggunakan konfrontasi dan interpretasi seperti terapi non direktif dan psiko analisa.
Konsep pokok
Adapun konsep pokok dari analisis transaksional menurut Corey ( 2005 ) adalah :
1.      Pandangan tentang manusia. Analisis transaksional berakar pada filsafat yang anti determinasi serta menekankan bahwa manusia sanggup melapaui pengkondisian dan pemograman awal.
2.       Perwakilan perwakilan Ego. Analisis transaksional adalah suatu system terapi yang berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego yang terpisah; orang tua, orang dewasa dan anak
3.      Scenario scenario kehidupan dan posisi psikologi dasar. Adalah ajaran ajaran orang tua yang kita pelajari dan putusan putusan awal yang dibuat oleh kita sebgai anak dewasa.
4.      Kebutuhan manusia akan belaian. Pada dasarnya setiap manusia memerlukan belaian dari orang lain, baik itu yang berlainan dalam bentuk fisik maupun emosional.
Proses Konseling
Tugas utama konselor yang menggunakan analisis transaksional adalah mengajar bahasa dan ide-ide sistem untuk mendiagnosa transaksi. Konselor transaksional selalu aktif, menghindarkan keadaan diam yang terlalu lama, dan mempunyai tanggung jawab untuk memelihara perhatian pada transaksi.
Tujuan konseling adalah :
  1. Membantu klien dalam memprogram pribadinya.
  2. Klien dibantu untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain, dan menjadi orang mandiri dalam memilih apa yang mereka inginkan.
  3. Klien dibantu mengkaji keputusan yang telah dibuat dan membuat keputusan baru atas dasar kesadaran.
  4. Teknik-teknik daftar cek, analisis script atau kuisioner digunakan untuk mengenal keputusan yang telah dibuat sebelumnya.
  5. Klien berpartisipasi aktif dalam diagnosis dan diajar untuk membuat tafsiran dan pertimbangan nilai sendiri.
  6. Teknik konfrontasi juga dapat digunakan dalam analisis transaksional dan pengajuan pertanyaan merupakan pendeatan dasar. Untuk berlangsungnya konseling kontrak antara konselor dan klien sangat diperlukan.

TEORI ANALISIS TRANSAKSIONAL TENTANG KEPRIBADIAN MANUSIA
Memahami konsep pokok AT tentang kepribadian manusia tersimpul dalam istilah yang digunakan dalam teori ini. Yaitu Ego State, Transaksional, Games, Stroke, Egogram, dan Skript. 
1.    Ego State (Keadaan Ego)
Ketika Berne menghadapi klien, ia menemukan bahwa kliennya kadang-kadang berfikir, berperasaan dan berperilaku seperti anak-anak, tapi di lain kesempatan terlihat seperti orang tua atau orang dewasa. Berdasarkan pengalamanya dengan klien itu, Berne berkesimpulan bahwa manusia memiliki berbagai bentuk kondisi ego, atau disebutnya dengan ego state. Status ego manusia itu ada tiga macam yaitu :
a.       Orang tua (Parent = Exteropsyche)
b.      Dewasa (Adult = Neopsyche)
c.       Anak-anak (Child = Archaeopsyche)
Kondisi ego orang tua (O) atau aslinya disebut oleh Berne dengan Exteropsyche adalah prototype yang ditampilkan seseorang seperti layaknya bokap atau nyokap Yakni penampilan yang terikat kepada sistem nilai, moral dan serangkaian kepercayaan. Bentuk nyatanya berupa pengontrolan, membimbing, membantu mengarahkan, menasehati, menuntun atau dapat pula mengecam, mengkritik, mengumando, melarang, mencegah atau memerintah dsb. Kata-kata yang sering digunakan oleh status ego O ini adalah keadaan ego Dewasa (D) adalah reaksi yang bersifat realistis dan logis. Status ego ini sering disebut komplek Karena bertindak dan mengambil keputusan berdasarkan hasil pemerosesan informasi dari data dan fakta lapangan. Karena itu, Berne menyebut status ego ini dengan Neopsyche. Kata-kata yang sering dipergunakan adalah benar, salah, praktis, dsb.
Keadaan ego Anak-anak (A) atau archaeopsyche, merupakan keadaaan dan reaksi emosi yang kadang-kadang adaptif, intuitif, kreatif, dan emosional, tetapi kadang-kadang juga bertindak lepas, ingin terbebas dari pengaruh orang lain. Kata-kata yang sering digunakan dapat berupa “Wah !”, Tidak mau. Tidak bisa, dsb.
Ketiga status ego dari Berne ini mempunyai perbedaaan nyata dengan konsep Freud mengenai Id, Ego dan Super Ego. Keunggulan konsep Berne mengenai status ego ini, karena ketiga macam status ini dapat diamati secara nyata, ketimbang konsep Freud yang abstrak.
Menurut Berne, ketiga macam statu ego ini, O, D, A, dapat dilihat secara terpisah pada setiap orang. Artinya, dalam keadaan atau waktu yang berbeda orang dapat menampilkan status ego yang berbeda pula. Orang normal (sehat) adalah orang yang dapat melahirkan status ego yang sesuai dengan keadaan lingkungannya.
Berne melukiskan adanya tiga macam bentuk ego yang berada dalam diri seseorang. Normal, Kontaminasi (Campuran) dan Eksklusi. Normal adalah bersifat terpisah, Kontaminasi adalah dua atau lebih status ego tercampur seperti tercampurnya status ego O dengan A. Sedangkan eksklusi yaitu salah satu ego yang menguasai seseorang dalam waktu yang lama sehingga menyingkirkan dua ego lainnyaStruktur Kontaminasi Eksklusi Kepribadian Normal ( Delusion) (Fixation)
2.      Transaksi
Transaksi merupakan inti dari konsep AT. Istilah transaksi sebenarnya adalah istilah yang sering dipergunakan dalam lapangan komunikasi. Sesuai dengan teori ini, transaksi diatikan sebagai hubungan stimulus respons atau dua ego state. Transaksi akan terjadi bila seseorang (A) memberikan rangsangan (stimulus) kepada orang lain (B), B memberi respons dan pada gilirannya respons B itu menjadi stimulus bagi A dan begitu seterusnya.
Menurut Berne, transaksi itu terjalin antar ego state. Kalau dua orang beraada pada suatu ruanngan, berarti pertemuannya 6 ego state. Dari sudut Ego state ini, Berne mengemukakan adanya 3 macam, yaitu transaksi yang bersifat Komplementer, Crossed (Silang) dan Ulterior (tersamar atau semu).
Transaksi Komplementer adalah transaksi antar dua ego state yang sama, seperti O dengan O, D dengan D, atau A dengan A Transaksi O-O lihatlah orang yang tengah bertengkar. Contoh D-D seperti seminar. Contoh A-A orang lagi pacaran.
Transaksi silang merupakan transaksi antar dua ego state yang berbeda. Ada tiga bentuk dengan contohnya: O–D (ujian skripsi), O–A (guru di kelas) D–A (dokter-pasien).
Transaksi tersamar atau semu adalah transaksi antar dua ego namun diikuti terjadinya transaksi dua ego lain yang tidak kelihatan atau tertutup, namun dirasakan oleh orang yang melakukannya. Transaksi yang tak kelihatan itu mengandung kesan psikologis.
Bentuk ketiga transaksi tersebut adalah :
Komplementer Silang Tersamar
Dari ketiga macam transaksi tersebut diatas, maka transaksi yang baik adalah Transaksi antara ego state Dewasa dengan Dewasa, karena lebih bersifat realities dan logis.
3.      Permainan (Games)
Komunikasi antara dua manusia sebenarnya bagaikan sebuat permainan (games), ada yang kalah (korban) dan ada pula yang menang (penindas). Orang yang kalah atau menang dapat silih berganti. Kalau yang kalah berhasil mencari penyelamatan, dia akan bergerak menjadi penindas dan mengeser lawannya jadi korban, dan begitulah seterusnya.
Orang menjadi pemenang akan merasa puas. Penindas diinndikasikan bilamana ia berhasil menggunakan egostate O. Namun bila lawannya berhasil mencari penyelamatan dan kemudian menggunakan egostate O terhadapnya ia akan merasa terhina. Sehingga oleh Compos disebut Orang yang menang disebut pendulang kopon emas, dan yang kalah disebut pengumpul kopon cokelat.
Oleh karena itu perilaku seseorang dapat berubah dalam setiap transaksi dengan orang lain. Kadang-kadang dia bersifat penindas, dan kadang-kadang sebagai korban. Perubahan bentuk peranan ini dapat digambarkan dalam drama segi tiga (threangle) di bawah. Penindas Penyelamat Korban
4.      Stroke (Dorongan atau Perhatian )
Interaksi antar manusia membutuhkan atroke atau berupa dorongan atau perhatian agar tercipta perubahan.
Stroke ini dapat dibedakan atas stroke negatif dan positif, stroke bersyarat dan tanpa syarat.Stroke positif adalah stroke yang mengakibatkan seseorang merasa dihargai dan diperhatikan sehinga menimbulkan motivasi yang kuat baginya untuk melakukan perubahan. Stroke negatif adalah yang mengakibatkan seseorang merasa kecewa atau penyesalan. "Saya tidak jadi berimu hadiah, karena kamu telat" Stroke bersyarat adalah dorongan atau perhatian yang diberikan bila dia berhasil melakukan suatu prasyaratnya terlebih dahulu. “Kamu akan saya sayangi bila kamu patuh”. Sedangkan stroke tanpa syarat seperti “ Ibu menyayangimu nak“
5.      Skript (Script)
Istilah skript bagi Berne dipergunakan untuk menunjukan pola kehidupan yang dapat berwujud cara bertingkah laku yang diyakini, sebagai cara, nasib, atau modus bagi dirinya. Tidak jarang pula skript boleh menjadi batas atau standar sukses yang ditanamkan orang tuanya. Skript ini bisa mempengaruhi interksi seseorang dengan orang lain. Kendatipun hal ini tidak disadarinya. Skript ini bisa mempengaruhi sehat tidaknya (OK tidak OK) seseorang dalam memandang diri dan lingkungannya.
Skript ini menurut AT dapat dirubah dengan memahami kembali atau mendefinisikannya kembali melalui interaksi seseorang dengan terapist.
6.      Egogram ( Takaran Energi Ego )
Istilah Egogram dikembangkan oleh Dusay yang dipakai untuk menunjukan fungsi dan besarnya kekuatan energi yang terdapat pada masing-masing ego state, terutama yang berhubungan dengan aspek emosional. Kendatipun Berne membagi ego state atas O, D dan A, Dusay membagi Egogram manusia atas 5 macam yang dikembangkan dari Ego state tersebut.
Status Ego Egogram
Parent : Orang tua (O) Critical Parent : Kritikan O (KO)
Nurturing Parent : Pemeliharaan O (PO)
Adult : Dewasa (D) Adult : (D)
Child : Anak-anak (A) Free Child : Kebebasan Anak (KA)
Adapted Child : Adaptasi Anak (AA)
Kelima macam Egogram ini mempunyai energi yang berbeda untuk setiap orang. Perbedaan energi egogram inilah yang menyebabkan perbedaan kepribadian seseorang.
Orang yang rendah energi KO, bersifat mudah tergoda, rendah NO kesepian atau depresi, rendah D kesulitan konsentrasi atau memecahkan masalah, rendah KA kehilangan kreativitas, intuitif dan semangat hidup, sedangkan rendah AA bersikap tidak kompromi atau konfrontasi.
Seseorang yang baik jadi Konselor adalah punya D sangat tinggi, PO lebih tinggi dari KO, AA lebih rendah dari KA serta sangat rendah KA
KEPRIBADIAN KONSELOR
Sikap Dasar Manusia
Sejak kecil manusia selalu berhubungan dengan dirinya dan orang lain. Bagaimana seseorang menerima diri dan orang lain itu akan membentuk sikap dasarnya. Sikap dasar ini menenmtukan keberhasilannya dalam hidup ini, termasuk menentukan bermasalah tidaknya seseorang.
Sehubungan dengan penilain seseorang terhadap dirinya (I) dan orang lain (you), Thomas Harris (1985 : 50) mengklasifikasikan adanya 4 macam sikap dasar sesuai dengan perkembangan manusia.
Sikap dasar pertama, saya tidak Oke – Kamu Oke, adalah sikap yang paling awal diperoleh manusia, yakni sikap seorang bayi. Dia menganggap dirinya jelek atau tidak mampu dan menganggap orang lain baik dan penuh perhatian padanya. Karena itu ia sering kali mengunakan ego state anak-anak.
Sikap dasar kedua, saya tidak Oke – Kamu tidak Oke, adalah sikap dasar yang memandang jelek baik atas dirinya maupun kepada orang lain. Kondisi seperti ini menandakan seseorang bermasalah atau depresi. Namun dalam kadar yang kecil terlihat pada perilaku di masa remaja yang tidak peduli dengan diri dan berontak terhadap aturan bahkan orang tua sendiri.
Sikap dasar ketiga, Saya Oke – Kamu tidak Oke, adalah sikap yang memandang jelek terhadap orang lain. Mereka suka mengkritik, atau menyalahkan orang lain. Ego state yang sering digunakannya dalam bertransaksi adalah O.
Sedangkan sikap dasar keempat, Saya dan Kamu Oke, adalah sikap hidup yang baik, atau posisi kepribadian yang sehat, dia bisa memandang realistis sebagai mana adanya dirinya dan orang lain. Ini terlihat bagi orang yang suka menggunakan ego state D
.


PROSES KONSELING
AT bertujuan membantu Klien mengembangkan status egonya sehingga dapat berfungsi lebih baik dengan cara menganalisa transaksi yang dilakukannya. Proses Konseling dalam AT ini dilakukan bahwa setiap transaksi dianalisis, Klien yang nampaknya mengelakkan tanggung jawab diarahkan untuk mau menerima tanggung jawab pada dirinya. Sehingga Klien dapat menyeimbangkan Egogramnya, mendefinisikan kembali skiptnya, serta melakukan instrospeksi terhadap games yang dijalaninya.
Menurut Harris, proses konseling AT pada bagian pendahuluan digunakan untuk menentukan kontrak dengan klien, baik mengenai masalah maupun tanggung jawab kedua pihak. Pada bagian kedua baru mengajarkan Klien tentang ego statenya dengan diskusi bersama Klien ( Shertzer & Stone, 1980 : 209).
Kontrak bagi Dusay (Cosini, 1984 : 419 ) adalah berbentuk pernyataan klien – terapis untuk bekerja sama mencapai tujuan dan masing-masing terikat untuk saling bertangung jawab, karena terapist bukanlah pula orang yang menanti mukjizat terapist. Kontrak dalam AT menurut Dusay mencakup 4 (empat) Komponen:
1.      Saling menyetujui, yakni terjadinya persetujuan dalam keadaaan ego state dewasa antara Klien – terapist untuk melakukan perubahan yang spesifik.
2.      Kompetensi, yakni kesediaan terapist untuk memberikan layanan yang menggunakan kompetensi yang dimilikinya, yakni merobah dan mengatasi persepsi klien yang salah atas diri dan lingkungannya. Kontrak untuk hidup sehat dan panjang umur berada diluar jangkauan kompetisi therapist
3.      Tujuan yang legal, adalah menyangkut materi dan tujuan dari kontrak yang bersifat legal.
4.      Konpensasi, yakni menyangkut imbalan bagi terapist yang telah mengorbankan waktu dan kemampuannya.
Setelah kontrak ini selesai, baru kemudian terapist bersama klien menggali ego state dan memperbaikinya sehingga terjadi dan tercapainya tujuan konseling.

TEKNIK KONSELING
Dalam AT konseling diarahkan kepada bagaimana klien bertransaksi dengan lingkungannya. Karena itu, dalam melakukan konseling ini, terapist memfokuskan perhatian terhadap apa yang dikatakan klien kepada orang lain dan apa yang dikatakan orang lain kepada klien. Untuk itu, teknik yang sering digunakan dalam AT diantaranya adalah analisis struktur, analisis transaksional, analisis skript, dan analisis mainan.
1.      Analisis Struktur
Analisis struktur maksudnya adalah analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien. Analis hendaknya bisa mengenal 1) apakah klien menggunakan ego state tertentu, 2) apakah ego state klien, normal, terkontaminasi atau eksklusif, dan 3) bagaimanakah energi egogram klien tersebut.
Dengan mengetahui struktur ego state klien, akan diketahui masalah yang dihadapi klien. Bila klien dominan menggunakan ego state A masalah yang dihadapinya kurngnya rasa pecaya diri atau dipandang rendah o rang lain. Bila O yang domninan maka klien tengah ditakuti, dijauhi, disishkan atau diasingkan orang lain.
2.      Analisis transaksional
Transaksi antara konselor – klien pada hakekatnya adalah tranasksi antar status ego keduanya. Konselor menganalisa status ego yang terlihat dari respons atau stimulus klien. Dengan orang lain Baik dari kata-kata yang diungkapkan klien, maupun dengan bahasa non verbal. Data atau informasi yang diperoleh dari transaksi dijadikan konselor untuk bahan analisis atau problem yang dihadapi klien.


3.      Analisis Mainan
Analisis mainan adalah analisis hubungan transaksi yang terselubung antara Klien dengan konselor atau dengan Lingkungannya. Mungkin Klien dalam transaksinya sering mengumpulkan “kupon emas atau kupon Coklat” (perasaan menang atau perasaan kalah). Bila klien dalam games sering berperan sebagai pemenang, maka ada kemungkinan ia menjadi amat takut sewaktu-waktu akan menerima kopon cokelat yang banyak.
4.      Analisis Skript
Analisis Skript ini merupakan usaha terapist yang terakhir, dan diperlukan mengenal proses terbentuknya skript yang dimiliki klien. Analisis skript ini hendaknya sampai menyelidiki transaksi seseorang sejak masa kecil dan standar sukses yang telah ditanamkan orang tuanya.
Disamping keempat macam teknik yang digunakan di atas, treatment dari AT sering pula menggunakan teknik khusus, seperti: Interogasi, Spesifikasi, Konfrontasi, Eksplanasi, Ilustrasi, Konformasi, Interpretasi, Kristalisasi

SIKAP DAN PERANAN KONSELOR
Inti pokok dari AT terletak pada usaha konselor (terapist) menganalisis transaksi klien dengan teknik-teknik yang telah disebutkan diatas. Dengan demikian telihat sikap dan peranan konselor di sini :
1.      Berusaha meletakkan tanggung jawab pada klien.
Karena pada hakekatnya setiap hendaknya bertanggung jawab atas kehidupannya, maka bagi AT juga mengarahkan agar pada diri klien tumbuh rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupannya.
2.      Menyediakan lingkungan yang menunjang. Untuk mencapai perubahan klien atau keseimbangan ego state klien, konselor berusaha sebagai penyedia fasilitas yang mendorong terjadinya perubahan ego state klien.
3.      Memisahkan mite dengan realitas. Karena pengaruh skript, banyak klien dipengaruhi oleh mitologi yang telah diadapsinya sejak lama. Dalam rangka memperbaiki kembali (memahami kembali) skript kehidupan klien itu, konselor AT mempunyai peranan untuk memisahkan mite yang berpengaruh dalam skript klien dengan realitas kehidupan yang sebenarnya.
4.      Melakukan Konfrontasi atas keanehan yang tampak. Keanehan atau keadaan ego state klien yang tidak seimbang dapat diperbaiki terapist dengan melakukan konfrontasi.Terapist hendaknya bisa membentuk dan merekonstruksi menjadi seimbang.
Jadi, dengan melihat peranan dan sikap konselor di atas, memperlihatkan bahwa konselor dalam AT bersifat aktif. Dia lebih banyak menentukan jalanya konseling.

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN
Dari uraian di atas, kiranya telah dapat dipahami sosok tubuh AT. Walaupun uraian teori ini lebih mengarah pada analisis transaksinya dari pada kaitannya dengan peran, proses, treatment. Namun dapat dibandingkan dengan pendekatan lain. AT merupakan salah satu pendekatan yang berbeda dengan beberapa pendekatan yang telah berkembang sebelumnya.
Bila kita lihat, bandingkan, atau nilai dari berbagai pendekatan lain, ternyata AT juga punya kelemahan disamping kebaikanya, seperti layaknya pendekatan lain. Adanya keunggulan hendaknya bisa kita manfaatkan, dan adanya kelemahan justru membuka peluang dan menantang, mencari dan menemukan pendekatan lain. Paling kurang terbukanya kesempatan untuk memperbaiki kelemahannya. Diantara keunggulan dan kelemahan AT itu antara lain:

·         Keunggulan AT
Dengan melihat Konsepsi, penekanan, pelaksanaan serta penerimaan pada klien, maka ada beberapa kebaikan dari AT:
a.       Punya Pandangan Optimis dan Realistis tentang Manusia. Seperti telah disebutkan pada bab terdahulu, AT memandang manusia dapat berubah bila dia mau. Manusia punya kehendak dan kemauan. Kemauan inilah yang memungkinkan manusia berubah, tidak statis. Sehingga manusia bermasalah sekalipun dapat berubah lebih baik, bila kemauannya dapat tumbuh. Karena itu AT lebih Optimis dan realistis memandang manusia.Bila kita bandingkan dengan Psikoanalisa, Freud, AT nampak selangkah lebih maju. Psikoanalisis memandang manusia deterministik.
Perilaku manusia bagaikan suatu rotasi dari pengalaman masa kecil, kendatipun pengalaman masa kecil itu tak diingatnya lagi (Unconscious). AT tidak menolak adanya pengaruh masa kecil ini. Konsepnya tentang skript kehidupan mengakui adanya kontribusi pengalaman masa kecil atas kehidupan sekarang. Tapi karena manusia punya kehendak dan kemauan untuk bebas, “pengalaman itu dapat dirubah “ (Shertzer & Stone, 1982, 237).
Skript kehidupan manusia diakui AT bersisi dua, ada yang negatif dan ada yang positif. Sesuai dengan nilai-nilai yang diterimanya dari orang tuanya atau interaksinya dengan lingkungan. Karena skrip itu mempengaruhi seseorang untuk mengambil kesimpulan, maka keputusan orang itu dapat Oke atau Tidak Oke terhadap diri dan lingkungannya. Hal ini juga lebih realitis dari konsep Rogers yang memandang manusia baik, rasional dapat dipercaya, dapat mengubah dirinya lebih baik atau dapat merealisasikan dirinya menjadi makhluk Insanul Kamil.
b.      Penekanan Waktu Sekarang dan Di sini. Tujuan pokok terapi AT adalah mengatasi masalah klien agar dia punya kemampuan dan memiliki rasa bebas untuk menentukan pilihannya. Untuk mengatasi masalah klien itu, AT berusaha membangkitkan kemauan dan kemampuan orang dengan melakukan analisis interaksinya dengan orang lain. Hal ini dimulai dengan mennganalisis interaksinya dengan terapist. Analisis seperti di atas, analisis interaksi klien dengan terapist atau orang lain, adalah persoalan interaksi sekarang. Kini dan di sini (here and now).
Metoda analisis struktur, status ego dengan egogram, analisis permainan semuanya merupakan analisis terhadap perilaku yang di tampilkan klien pada saat ini, di sini di hadapan konselor. Kalau analisis itu (struktur, ego state, dan mainan) tidak mencapai hasil baru AT menggunakan analisis skrip, yang orientasinya pada masa lalu. Alternatif ini dipergunakan AT sebagai cara terakhir, bila analisis sebelumnya gagal merenggut hasil

c.       Mudah Diobservasi.Banyak teori yang lahir dibelakang labor ilmiah, tak terkecuali untuk teori-teori Psikologi. Pada umumnya teori yang muncul dari laboratorium itu sulit diamati karena itu terlihat abstrak, sehingga kadang-kadang tak jarang pula yang hanya merupakan konstruk pikiran manusia penemunya.
Berbeda dengan AT, ajaran Berne tentang status ego ( O, D dan A) adalah konsep yang dapat diamati secara nyata dalam setiap interaksi atau komunikasi manusia.Status ego Berne jauh lebih observable dari teori Freud mengenai Id, Ego dan Super Ego, yang hanya dapat dijadikan konstruk pikiran kita atas perilaku seseorang. Lain dengan Ego Orang tua, Dewasa dan Anak, dia dapat diamati secara jelas tanpa menggunakan laboratorium. Begitu juga dengan sikap dasar manusia yang memilah manusia atas 4 posisi (saya tidak oke-kamu yang oke, saya dan kamu tidak oke, saya oke-kamu tidak oke, dan saya dan kamu oke) yang dikembangkan Harris, jauh lebih maju dari konsep karen Horney yang hanya mengemukakan 3 disposisi manusia. Helpless (minta pertolongan), hostility (menyerang) dan issolation (mengasingkan diri) (Bischof, 1970, 212).
Horney membagi 3 disposisi ini dari sudut orang lain. Helpless, punya arah gerak kepada orang lain (Moving toward people). Menyerang merupakan arah menentang orang lain (moving againts people), sedangkan isolasi punya arah melarikan diri dari orang lain (moving away from people).Sedangkan Harris membagi sikap dasar manusia itu atas dasar pandangan terhadap diri sendiri dan orang lain. Karena itu, konsep ini lebih maju dari Horney yang hanya melihat dari orang lain saja, pandangan terhadap diri sendiri juga mempengaruhi hubungan dengan orang lain.
d.      Meningkatkan Keterampilan Berkomunikasi
Fokus AT terpusat pada cara bagaimana klien berinteraksi, maka treatment juga mengacu pada interaksi, cara bebicara, kata-kata yang dipergunakannya dalam berkomunikasi. Analisis terhadap interaksi klien pada ruangan konseling, memberi kesempatan kepada klien untuk memperbaiki cara interaksinya dan komunikasinya baik di dalam ruangan Konseling. Karena itu, AT tidak hanya berusaha memperbaiki sikap, persepsi, atau pemahamannya tentang dirinya tetapi sekaligus mempunyai sumbangan positif terhadap keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. Hal semacam ini tidak dimilliki oleh pendekatan lainnya.

·         Kelemahan AT
Disamping decak kagum orang atas ajaran Berne ini, yang telah berhasil merekrut teori-teori komunikasi kelapangan psikologi, bukanlah berarti teori ini tidak punya kelemahan, banyak kritik dilontarkan pada AT, diantaranya :
a.       Kurang Efisien terhadap Kontrak Treatment
AT mengharapkan, kontrak treatment antara konselor-klien harus terjadi antara status ego Dewasa-dewasa. Artinya menghendaki bahwa klien mengikat kontrak secara realistis, sebagai orang yang membutuhkan pertolongan.
Tetapi dalam kenyataannya, cukup banyak ditemui bahwa banyak klien yang punya anggapan jelek terhadap dirinya, atau tidak realistis. Karena itu, sulit tercapainya kontrak, karena ia tidak dapat mengungkapkan tujuan apa yang sebenarnya diinginkannya. Sehingga memerlukan beberapa kali pertemuan. Hal semacam ini dianggap tidak efisien dalam pelaksanaannya.
b.      Subyektif dalam Menafsirkan Status Ego.
Apakah ungkapan klien termasuk status Ego Orang tua, Dewasa, atau Anak-anak merupakan penilaian yang subyektif. Mungkin dalam hal yang ekstrim tidak ada perbedaan dalam menafsirkannya. Tapi bila pernyataan itu mendekati dua macam status ego akan sulit ditafsirkan, dan mungkin berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Kesalahan atau perbedaan dalam menafsirkan status ego ini telah dibuktikan oleh Thomson dalam Dusay (Corsini, 1984) yang telah merekam suatu wawancara konseling, kemudian kepada konselor dan calon konselor AT disuruh menganalisis wawancara itu dari 3 macam status ego. Hasilnya memperlihatkan adanya perbedaan penafsiran diantara konselor dan calon konselor tadi.
Di pihak lain error dari pihak klien mungkin pula muncul kepermukaan. Secepat ia memasuki ruangan konseling secepat itu pula terjad perubahan pola komunikasinya. Interaksinya diluar ruangan konseling tidak sama dengan didalam ruangan konseling. Bisa diluar lebih baik dengan menampilkan status ego dewasa, tapi di dalam ruangan konseling lebih banyak menampilakn status ego Anak-anak.
Latar belakang kebudayaan serta bahasa sangat mempengaruhi pemahaman mengenai status ego ini. Karena itu analisis terhadap status ego ini bila antara konselor dengan klien punya latar belakang kebudayaan dan bahasa yang sama. Dan adalah sangat sulit terciptanya penafsiran yang sama pada masyarakat yang punya strata sosial berbeda, paternalis dsb. Perbedaan dalam memahami status ego ini, menyebabkan sulitnya kesamaan dalam menakar egogram klien.
c.       Kurang Petunjuk Mengenai Tingkah laku Konselor
Bagi orang yang ingin mempraktikkan AT ini perlu petunjuk bagaimana menganalisis transaksi itu secara tepat dan hemat. Termasuk persoalan bentuk-bentuk responsnya, dan konten dari ungkapan klien. Mungkin di atas telah disebutkan adanya analisis struktur, permainan, Skrip dengan penggunaan beberapa teknik, namun teknik mana yang dipakai dalam menganalisis itu tidak / belum dikembangkan secara khusus dalam teori AT ini. Karena belum adanya petunjuk khusus ini, orang menganggap AT kurang terinci, karena tidak ada petunjukanya

KEMUNGKINAN PENERAPANNYA PADA SEKOLAH
Banyak laporan, terutama dari praktioner (penganut) AT, bahwa AT berhasil dengan memuaskan. Banyak klien yang telah disembuhkan dengan cara ini, serta “decak kagum “ pun dialamatkan pada temuan Berne ini. Terbentuknya perhimpunan AT, ITAA, dan terbitnya jurnal AT membuktikan bahwa AT sebagai suatu pendekatan yang sudah besar dan berkembang luas dikalangan ahli terapi.
Persoalan sekarang, apakah keberhasilan AT ini dapat pula diterapkan disekolah, terutama di sekolah kita Indonesia yang berlandaskan filsafat Pancasila? Persoalan ini tidaklah sederhana. Keterampilan AT pada klinik Psikologi boleh jadi cocok atau boleh jadi tidak. Penerapan yang tepat meminta uji coba yang cukup matang.
Secara rasional, keberhasilan AT di klinik-klinik Psikoterapi mungkin sekali kita rekrut ke sekolah. Malah kita lebih optimis lagi, karena dapat mengamati langsung perubahan klien di luar ruangan konseling. Betapa tidak, titik sentral dari analisisnya terletak pada transaksi. Selama klien masih berada di sekolah, selama itu pula kita dapat menganalisis transaksinya baik dengan temannya atau gurunya.
Lebih optimis lagi, bahwa AT dapat berhasil bila digunakan sebagai penyuluh kelompok. Karena orang yang sehat kreteria AT adalah yang punya perasaan bebas untuk menentukan pilihannya. Transaksi yang digunakan adalah terciptanya transaksi antar status ego Dewasa. Kemungkinan tumbuh dan berkembang transaksi antar ego Dewasa ini lebih besar dengan teman sebaya. Jadi kondisi ini memungkinkan konselor menerapkan AT sebagai penyuluh kelompok di sekolah.
Kondisi sekolah yang menunjang penerapan AT sebagai pendekatan penyuluhan kelompok ini, justru sebaliknya bagi penyuluh individual. Harapan agar komunikasi atau transaksi antara konselor – klien dapat terbentuk transaksi antara ego state dewasa-dewasa, justru sulit terbina. Karena adanya jarak antara Konselor dengan Klien. Jarak itu adalah faktor usia. Konselor lebih cenderung jauh lebih tua dari klien yang siswa ( 12 – 15 untuk SMTP, 15 – 19 tahun untuk SMTA). Karena itu transaksi yang mungkin sering muncul adalah antara ego state Dewasa (Konselor) – Anak-anak (Pada siswa).
Kondisi ini ditopang oleh faktor budaya kita. Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan pada Pancasila bukanlah negara yang berfaham Liberal. Adat dan sopan santun ketimuran selalu melengket pada masyarakat Indonesia. Cara berbicara dengan orang yang sama besar atau lebih kecil tidak sama dengan cara berbicara dengan orang yang dihormati dan atau lebih besar. Pada beberapa daerah, bahasa yang digunakanpun juga berbeda, lebih halus dan lembut. Karena itu, keberhasilan AT pada masyarakat Amerika yang egaliter belim tentu bisa sama dengan masyarakat kita.
Tujuan Pelatihan Analisis Transaksi
Untuk membuka wawasan partisipan mengenai bagaimana strategi membangun suatu hubungan yang berbeda yang didasarkan atas ide-ide sebagaimana digambarkan dalam konsep analisis transaksi.
  • Membuat setiap perawat menjadi akrab dengan metode analisis transaksi
  • Memberikan pemahaman kepada perawat teknik penerapan analisis transaksi (AT)
  • Mencapai otonomi diri termasuk menggunakan setiap unsur status  ego secara sadar dan memadai.
  • Memperbaiki wawasan dan kemampuan perawat dalam membangun transaksi, interaksi dan komunikasi yang efektif.
  • Dengan memahami teknik-teknik analisis transaksi, perawat akan mampu mengembangkan strategi koping adaptif
Isi
Beberapa materi yang harus dipahami partisipan :
-       Analisis status ego (Ego state),
-       Analisis Transaksi,
-       Analisis Strokes, dan
-       Analisis posisi hidup (Life position).
-       Injunction
-       Redecision
-       Mengeksplor Racket
-       Game
-       Menulis buku kehidupan
-       Menyeimbangkan dominasi status ego
Metodologi
Adapun metode yang digunakan adalah :
-       Kuliah / ceramah,
-       Diskusi
-       Role play
-       Game, dan
-       Kuesioner
Alokasi waktu
-       Pendahuluan / ice breaking (15 menit)
-       Penyampaian materi status ego + kuesioner (45 menit)
-       Analisis Transaksi (30 menit)
-       Analisis Strokes + kuesioner (45 menit)
-       Analisis life posisi (30 menit)
-       Injunction (30 menit)
-       Redecision (30 menit)
-       Mengeksplor Racket (30 menit)
-       Game (30 menit)
-       Kontrak (30 menit)
-       Menulis buku kehidupan (30 menit)
-       Memperbaiki dominasi status ego (30 menit)
Metode yang digunakan
-       Ceramah
-       Curah pendapat
-       Diskusi
-       Studi kasus
-       Simulasi / Demonstrasi
-       Coaching/pembimbingan
Instruksi untuk Trainer:
  1. Pendahuluan, Dalam bagian ini peserta akan dilengkapi dengan pengetahuan teoritis yang berkaitan dengan gambaran berbagai jenis hubungan interpersonal sehubungan dengan Analisis Transaksi.
  2. Analisis Status Ego Orang tua (Parent), Dewasa (Adult) dan Anak (Child). Status Ego Orang Tua. Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dikatakan dalam status ego orang tua. Oleh karena setiap individu mempunyai pengalaman pendidikan, sikap, pandangan dan pendapat yang khas dari kedua orang tuanya, maka setiap individu akan berbeda status ego Orang tua nya.
Status Ego Dewasa. Jika individu bertigkah laku secara rasional, melakukan testing terhadap realita, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa. Pengalaman-pengalaman belajar yang didapatkan antara individu yang satu dengan yang lain berbeda, mengakibatkan status ego dewasa juga berbeda.
Status ego dewasa dapat dilihat dari tingkah laku yang bertanggung jawab, tindakan yang rasional dan mandiri. Sifat dari status ego dewasa adalah obyektif, penuh perhitungan dan menggunakan akal.
Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak. Jika individu melakukan, berperasaan, bersikap seperti yang di lakukan pada waktu masih kecil, maka individu tersebut dalam status ego anak. Setiap individu akan mempunyai pengalaman dan masa kanak-kanak yang berbeda-beda, maka status ego anak untuk setiap individu akan berbeda.
  1. Analisis Transaksi adalah mengacu pada setiap pertukaran social yang dilakukan individu dengan individu lainnya. Unsur-unsur pertukaran tersebut berlangsung pada saat melakukan komunikasi (verbal maupun non-verbal). Peserta akan diberi tahu tentang berbagai jenis transaksi baik transaksi sejajar (complementary transaction), transaksi silang (crossed transaction) dan transaksi terselubung (ulterior transaction). Setelah mengenalkan jenis-jenis transaksi, akan dirangkaikan dengan memberikan pemahaman mengenai proses  dan ciri transaksi yang efektif.
  2. Analisis Strokes, Strokes dapat dipertimbangkan dalam cara yang paling sederhana sebagai bentuk penghargaan (apresiasi) dan hukuman. sebuah belaian meupakan bagian dari suatu perhatian yang melengkapi stimulasi yang optimal kepada individu. Belaian ini merupakan kebutuhan dalam setiap interaksi sosial dan menyehatkan. Belaian ini tidak hanya dibutuhkan dan terjadi pada anak, akan tetapi juga pada masa dewasa dan belaian yang diterima atau yang diberikan akan menguatkan posisi hidup seseorang.
  3. Analisis Posisi Hidup, Merupakan akibat dari suatu keputusan yang dibuat dalam rangka merespon bagaimana reaksi figur orang tua terhadap ekspresi awal anak akan kebutuhan dan perasaannya, serta merupakan komponen dasar dari naskah hidup individu.
Ada 4 dasar posisi hidup:
·         I’m OK – You’re OK (Saya OK, Kamu OK)
Posisi ini merefleksikan bahwa individu mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan percaya pada orang lain. Individu tidak takut berhubungan dengan orang lain.
·         I’m OK – You’re not OK (Saya OK, Kamu tidak OK)
Posisi ini merefleksikan bahwa individu membutuhkan orang lain akan tetapi tidak ada yang dianggap cocok, individu merasa superior, merasa mempunyai hak untuk mempergunakan (memanipulasi) orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya.
·         I’m not OK – You’re OK (Saya tidak OK, Kamu OK)
Posisi ini merefleksikan bahwa individu merasa tidak terpenuhi kebutuhannya dan merasa bersalah. Posisi ini merupakan posisi yang paling umum yang biasa disebut depresif dan inferior.
·         I’m not OK – You’re not OK (Saya tidak OK, Kamu tidak OK)
Posisi ini merefleksikan bahwa dirinya merasa tidak baik dan orang lain pun juga tidak baik, karena tidak ada sumber belaian yang positif, individu akan menyerah dan merasa tidak berdaya.
Trainer harus memberikan informasi evaluatif mengenai posisi hidup ini kepada para peserta dan mereka harus didorong untuk mengidentifikasi sejauhmana posisi hidup dipandang adaptif ataupun maladaptive. Para peserta diajak untuk berani mengubah posisi hidup mereka yang sesuai dengan kontrak interpersonal.
  1. Perintah. Setiap orang dalam kehidupannya telah diprogram untuk menerima berbagai pesan dan perintah yaitu, pesan yang mengharuskan dan mau tidak mau harus dituruti hingga akhirnya terinternalisasi menjadi sebuah gaya hidup. Merefleksikan beberapa perintah-perintah yang sesuai dan logis akan membantu peserta termotivasi untuk mengubah dan mempelajari cara interaksi yang positif.
  2. Decision dan redecision (Keputusan dan Memutuskan Kembali). Orang-orang cenderung bergantung pada keputusan awal tanpa mampu berpikir untuk mengubahnya dengan keputusan baru yang lebih memadai dan mampu memperbaiki jalan kehidupannya. AT mengasumsikan bahwa apa yang sudah ditetapkan dapat diubah melalui keputusan baru. Peserta pelatihan akan diarahkan untuk mengidentifikasi keputusan awal yang kurang efektif atau merugikan untuk kemudian memodifikasi dengan keputusan baru yang lebih bermanfaat.
  3. Racket adalah semacam kumpulan perasaan inferior yang ada dalam diri setiap orang dan melengkapi naskah hidupnya (life-script).
Pelatihan ini bermaksud membuka tabir ketidak tahuan peserta mengenai ciri-ciri racket nya. Beberapa jenis raket seperti:
a)      raket kemarahan,
b)      raket bersalah,
c)      raket terluka,
d)     raket depresi.
Misalnya, jika seseorang mengembangkan sebuah raket bersalah, maka orang ini benar-benar akan mencari situasi yang akan mendukung perasaan bersalah tersebut. Bila tidak berusaha akar penyebab terprosesnya raket maka akan cenderung menimbulkan ketidakberdayaan dan akibatnya orang akan beresiko mengalami depresi, marah dan terus menerus tersakiti.
9.      Game (Mendeteksi kekeliruan aspek-aspek AT dalam sebuah permainan atau drama dan roleplay). Indikasi keberhasilan dalam melakukan game adalah apabila peserta menyadari peran negatif dan merugikan dirinya. Peserta dalam sesi ini akan sengaja diposisikan sebagaimana dirinya yaitu: dominasi status ego yang sering diperagakan dan mempengaruhi cirri transaksi, kecenderungan membiasakan diri dalam sebuah raket dan injunction, serta kebutuhan dan pengabaian stroke. Misalnya dalam memainkan game ketidakberdayaan (Helplessness), pada akhirnya akan terlihat bahwa ketidakberdayaan dipengaruhi oleh :   Dominasi salah satu status ego, Terbiasa menempatkan posisi Kamu OK dan Aku Tidak OK, Tidak mampu mengubah (redecision) setiap perintah (injunction) yang merugikan diri karena terbiasa dan tidak menyadari bahwa naskah hidupnya (life-script) sangat kuat dipengaruhi cirri status ego Orang tua pengkritik (Critical Parent) dan Anak alami (Natural Child).
  1. Kontrak. Terapi AT bekerja berdasarkan kontrak, yang berarti bahwa klien secara jelas akan dilibatkan karena mereka akan menentukan sendiri apa yang ingin diubah dari diri mereka sendiri. Dan ini akan terjalin setelah peserta diperkenalkan dengan sebagian terminology dalam analisis transaksi.
  2.  Menyusun buku pribadi. Peserta akan diminta untuk mencatat ringkasan naskah hidupnya dalam bentuk buku. Didalamnya akan memuat seluk-beluk kehidupan pribadinya termasuk titik balik sebagai kunci dari setiap peristiwa penting dalam kehidupan. Kemudian peserta akan diminta merevisi isi buku tersebut inilah yang menjadi kontrak sebuah pelatihan AT.
  3. Latihan memperbesar/memperkecil dominasi status ego. Latihan ini dapat dilakukan dengan pasangan dalam kelompok. Akan terlihat dalam sebuah format misalnya mengenai seberapa kuat pengaruh orang tua mempengaruhi status ego Orang tua anda. Peserta diminta untuk membayangkan catatannya (dengan mata tertutup), menghayati kehidupan masa kecilnya bersama orang tua. Bagaimana pernikahan mereka? Bagaimana gaya reaksi orang tua menyikapi perilaku anak-anaknya?